![]() |
| Foto: Dokumen BRI |
Jakarta -- Program BRIncubator yang digagas oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi salah satu instrumen penting dalam mendampingi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Rumah BUMN agar mampu berkembang lebih kuat dan berkelanjutan. Melalui program ini, UMKM yang telah lolos proses kurasi mendapatkan pelatihan serta pendampingan intensif sehingga lebih siap menghadapi persaingan usaha di pasar yang semakin kompetitif.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa BRIncubator difokuskan pada peningkatan kapasitas usaha melalui pelatihan yang terarah dan pendampingan yang berkelanjutan. Program ini secara khusus dirancang untuk memperkuat UMKM yang telah melalui proses seleksi awal sehingga dapat meningkatkan kualitas bisnis sekaligus memperluas peluang pasar.
“BRIncubator merupakan program pelatihan dan pendampingan bagi UMKM binaan Rumah BUMN yang telah lolos kurasi. Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha agar lebih siap bersaing,” ujar Dhanny dalam keterangannya yang dikutip pada Ahad (11/1/2026). Ia menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam program ini tidak hanya sebatas pelatihan, tetapi juga membangun kesiapan usaha secara menyeluruh.
Menurut Dhanny, program BRIncubator juga menjadi bagian dari komitmen BRI dalam mendorong UMKM agar dapat naik kelas secara bertahap. Melalui peningkatan literasi bisnis, pemanfaatan teknologi digital, serta kemudahan akses terhadap berbagai peluang pengembangan usaha, pelaku UMKM diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus menciptakan nilai tambah bagi produk mereka di pasar.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan manfaat nyata dari program tersebut adalah Iswara Food, produsen bumbu dan tepung bumbu kemasan asal Surakarta yang dikelola oleh Dewi Aminah. Usaha ini lahir dari perjalanan hidup yang tidak mudah, namun berhasil bangkit melalui semangat berwirausaha dan dukungan program pendampingan.
Sebelum membangun Iswara Food, Dewi mengelola usaha batik di Pasar Klewer sejak awal pernikahannya. Usaha tersebut sempat berkembang pesat, namun musibah kebakaran besar yang melanda pasar itu membuat seluruh usahanya habis terbakar. Peristiwa tersebut memaksanya memulai kembali usaha dari titik nol.
Cobaan lain datang ketika anak ketiganya lahir dengan kondisi autis dan hiperaktif pada tahun 2000. Kondisi tersebut mendorong Dewi belajar menyiapkan makanan sehat bagi anaknya, meski sebelumnya ia mengaku tidak terbiasa memasak. Dari proses belajar itu, ia mulai mengenal dunia pengolahan bumbu dan tepung hingga akhirnya menciptakan produk berbahan tepung mokaf seperti tepung ayam krispi dan tepung tempe mendoan.
Perjalanan Iswara Food semakin berkembang setelah Dewi mengikuti program BRIncubator dari Rumah BUMN BRI Solo. Ia mendapatkan berbagai pembelajaran mulai dari strategi pemasaran digital, pengembangan produk, hingga peningkatan kualitas produksi dan kemasan. Bahkan pada 2024, produknya berkesempatan dipromosikan dalam ajang BRI Expo. Tak hanya mengembangkan bisnisnya, Dewi juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan melatih ibu-ibu, termasuk keluarga anak yatim dan istri warga binaan, agar dapat memulai usaha rumahan dengan modal kecil serta membuka peluang lahirnya wirausaha baru.
Laporan: Tim Lensa BRI
Editor: Redaksi

0 Komentar